Diplomat Indonesia : Pengalaman Saya dan Tulisan Hasyim Widhiarto


Beberapa hari yang lalu saya di pesawat melamun…”bagaimana rasanya apabila Indonesia dianugrahi kekayaan minyak bumi yg sangat tak terkira serta dilengkapi dengan sekelompok pemimpin yg visioner dalam membangun bangsa ini ya”…

Ya…saya cukup beruntung mendapat tugas dari kantor saya bekerja untuk mengadakan suatu perundingan kerja dengan salah otoritas dari salah satu negara teluk yang memiliki 2 hal yang saya sebutkan diatas…minyak bumi sangat berlimpah ya mereka punya…pemimpin pemimpin yg visioner ya mereka juga punya….alhasil saya berkesempatan untuk menyaksikan suatu negara padang pasir yang tadinya bukan negara apa apa tapi kini sudah berkembang jauhh dengan sangat pesat…negaranya ditata dengan sangat indah dan nyaman….area perkantoran dan perumahan diatur…gedung gedung ditata dengan menggunakan arsitek kelas dunia…sarana sarana rekreasi keluarga dibuka untuk umum (tidak dikenakan biaya apapun) dan dikelola dengan cara yang sangat apik dan menyenangkan…pajak negara rendah dan kehidupan rakyatnya pun dijamin seperti listrik, telfon dan pendidikan hingga jenjang S1 ditanggung negara…itulah kesan mendalam yang membawa saya dalam lamunan di dalam pesawat tadi…

Saya juga sempat berkenalan dan beramah tamah dengan diplomat muda Indonesia yang bertugas di negara tersebut karena kebetulan saya mendampingi pejabat negara (delegasi) dalam perundingan dimaksud…selama 4 hari perundingan saya selalu ditemani dengan diplomat tersebut (katakanlah namanya Ray). Dan dalam pertemanan baru saya dengan Ray, banyak cerita yang kok kebetulan hampir hampir sama ya dengan pokok pikiran artikel Saudara Hasyim Widhiarto yang saya baca kemarin sore (artikel dimuat di harian Jakarta Post tanggal 12 Desember 2010). Sekelumit memori dan pengalaman saya dengan Ray itulah yang ingin saya coba kaitkan dengan artikel Saudara Hasyim Widhiarto tersebut…

Jujur saja…impresi pertama saya terhadap Ray adalah iri sekaligus kasihan….iri ya karena luxury dan fasilitas yg dia dapatkan sebagai diplomat..dan kasihan karena satu dan lain hal yang akan saya ceritakan kemudian…saya merasa terbantukan sih dengan dijemput saudara ray jam 5 pagi di bandara waktu setempat dan diantar ke hotel tempat saya dan delegasi menginap…saya juga merasa terbantukan dengan dijemput kembali jam 10 pagi dari hotel ke tempat perundingan diadakan…selama perundingan pun ray mendampingi (meskipun sesekali ray meninggalkan kami untuk keperluan tugas)…kemudian selesai perundingan hari pertama ray mengajak berkeliling sebentar dan menemani kami makan…setelahnya kembali mengantar ke hotel…membiarkan kami beristirahat sejenak dan malamnya menjemput kami ke hotel untuk jamuan makan malam dengan pihak kbri…kemudian setelahnya mengantar berkeliling sebentar dan kembali mengantarkan kami ke hotel…selesai lah hari pertama…dan selanjutnya sampai hari terakhir dengan rutinitas yang kurang lebih sama….

Saya pun bertanya kepada ray..enak yah jadi diplomat???posting di negara bagus dan indah…bisa beli barang bermerk dengan harga lokal (pajak murah disana)….fasilitas telfon dapat (ini asumsi saya saat itu)…pendapatan tinggi…dan kerjanya lumayan mengasyikkan meskipun sepertinya melelahkan…

Mungkin pada saat itu apabila saya membaca artikel Saudara Hasyim Widhiarto tanpa mengenal dan tukar pikiran dengan ray secara langsung, saya mungkin akan terdiam dan tenggelam begitu saja dalam membaca artikel tersebut….mungkin yang akan terlintas bagi kaum awam secara umum setelah membaca artikel tersebut adalah: seorang diplomat..fasilitas diplomatik dapat….gaya hidup mewah dapat….take home pay besar dalam bentuk dollar dapat…uang representatif yg lumayan besar dan juga dalam bentuk dollar juga dapat….enak kali khan yahhh???siapa yg gak mau jadi diplomat coba kalau gak begitu?

Well, ternyata tidak menurut Ray….take home pay dia tidak lebih dari US$3600 sebulan, dan nominal itu untuk biaya hidup disana ditambah membawa tanggungan istri dan anak yah tidak lah juga bisa dinikmati dengan berfoya foya, travelling or membeli barang ber merk setiap bulannya…sesekali ya mereka travelling keluarga…or membeli beberapa barang impian mereka yang ternyata harus di compensate dengan menekan alokasi anggaran dari take home pay yg diterima setiap bulannya itu….pendek kata yah…pinter2 ngatur duit aja ucapnya…

Masalah fasilitas telfon lanjutnya….mereka memang tidak mendapat skema penggantian uang telfon…jadi uang telfon digunakan dari kocek pribadi yang terkadang…ketika mereka menerima delegasi yang aneh2…seperti misalnya ray bercerita…pernah suatu hari anggota dewan berkunjung kesana dan menggunakan telfon selular ray untuk menghubungi beberapa counter partnya….(baca: kadang ada delegasi yg juga sangat “irit” untuk mengeluarkan duit utk keperluan mereka sendiri seperti telfon, dll)…ya akhirnya diplomat muda alias ray itu lah yang musti sedih setiapkali membayar tagihan telfon selular setiap bulannya….ray dan diplomat indonesia lainnya pun mengeluhkan hal ini kepada duta besarnya…solusi yg tercipta adalah dengan dibentuknya suatu dana operasional yang merupakan “urunan” bersama para diplomat tersebut….jadi misalnya ray mendapat dinas ke negara A…sekembalinya ke negara A ray akan menyumbangkan urunan US$100 (misal) untuk dana operasional tadi….jadi mungkin (ini mungkin lho ya)…apa yg saudara Hasyim katakan bahwa salah satu perwakilan menggunakan dana untuk kompensasi telekomunikasi ya barangkali berasal dari dana operasional itu tadi yg mungkin mekanismenya sama or ada mekanisme lain yang kita tidak ketahui…

Saya juga sempat bertanya ttg uang representasi…apa sih uang representasi diplomat itu…fungsinya apa sih…well menurutnya, uang representasi itu sebenarnya adalah uang taktis yg dimiliki oleh tiap diplomat diperwakilan asing yang digunakan untuk networking mereka..Nah..networking itu tadi juga digunakan untuk aktivitas lainnya seperti intelijen (mengetahui info strategis yg bisa di gali dari counterpart diplomat)….negosiasi non formal (apabila negosiasi formal tidak berhasil)….meningkatkan hubungan baik kedua negara dan sebagainya…yah klo dipikir2 sama lah dengan di swasta….kita di swasta juga ada khan uang representasi….sekali golf dengan client misalnya…seorang manajer bisa menghabiskan uang representasi sebesar IDR 30 juta dalam satu hari…but tentunya dari permainan golf tadi ada sesuatu yg dihasilkan…ya mungkin tanda tangan kontrak…peluang tender…dan sebagainya…

Saya lantas iseng bertanya…berapa sih uang representasi seorang diplomat?ray tidak bilang sih berapa uang representasinya, namun utk seorang duta besar kisarannya adalah sekitar US$ 1000an lebih lah sebulannya…so setahun sekitar US$ 12000an. Nah, lantas bentuk pertanggung jawabannya katanya selalu dituangkan ke dalam pembukuan yang dibuat oleh BPKRT (badan pelaksana kerumah tanggaan something lah) yang kemudian dilaporkan ke Kemlu pusat dan diawasi oleh Itjen dan BPK. Disini, (sama seperti tulisan Saudara Hasyim) terkadang terdapat beberapa temuan yang pembukuannya tidak cocok alias abrakadabra. Kebetulan Ray juga bercerita ke saya bahwa kadang-kadang hal ini memang terjadi dan bisa disebabkan oleh banyak faktor. Salah satu faktor yg dulu (catat: dulu) paling dominan adalah: dulu BPKRT itu dilakukan oleh orang yang memang tidak memiliki pengetahuan ilmu pengetahuan yang cukup atas ekonomi,keuangan ataupun akunting (kadang tamatan SMA). Barulah 5 tahun kebelakang ini (kurang lebih lah ucapnya), Kemlu mengadakan rekrutmen khusus BPKRT dengan minimal pendidikan DIII dan BPKRT ini dibekali dengan pendidikan internal Kemlu tentang akuntansi dan sebagainya sebelum mereka ditempatkan di perwakilan..so memang kesalahan pembukuan memang/pernah/kadang kadang ada…kesalahan yang disengaja utk kepentingan pribadi pun juga ada…mungkin apabila ada kejanggalan dalam suatu temuan ataupun pembukuan, tinggal kita lihat saja kasusnya dan diteliti sejauh mana kebenarannya dan tahun kapan kejadian tersebut terjadi…hal ini karena sistem upgrading BPKRT masih berjalan secara bertahap di seluruh perwakilan RI menurut Ray….

Saya jadi kembali bertanya ke Ray…so menurut lo Ray, enak gak sih jadi diplomat itu? Enaknya apa dan gak enaknya apa misalnya…

Jawab si Ray sih gini:

Enaknya: bisa mempelajari budaya dan lingkungan baru, memperoleh pengetahuan yang luas, bisa mengabdi untuk negara, bisa keliling dunia (klo lagi tugas dan dinas), dan bisa ngerasain dollar..

Gak enaknya: 1). keliling dunia ketika bertugas dan ketika liburan beda…klo keliling dunia ketika bertugas ya musti bikin persiapan perundingan, bikin paper, posisi delri dan meneliti kelemahan lawan dalam negosiasi, bikin laporan dsb, 2) terima dollar sih enak…tp klo dpt post di negara euro atau poundsterling yg rate tukarnya lebih tinggi dari dollar or negara yg biaya hidupnya tinggi (seperti Jepang) ya tetep aja rugi bandar, 3. Take home pay besar kadang sejalan lurus dengan biaya hidup negara setempat yang juga besar (contoh: sewa hunian yg layak adalah sekitar US$1500an per bulan, belum asuransi kesehatan, transportasi dll)…ditambah lagi musti memperhatikan kesejahteraan istri dan pendidikan anak (kebetulan mas Ray ini anaknya 3…jadi beliau lumayan pusing katanya dengan take home pay dia skr yg menurut saya pribadi sih udah cukup besar), 4. Ray berpendapat bahwa di negara Ray skr bertugas…dia sangat disibukkan dengan membantu dan melayani TKI bermasalah disana yg jumlahnya ratusan sementara diplomat aktif di dalam kbri tersebut hanyalah sekitar 11 orang…5. Dsb dsb dsb…

Saya juga bertanya kepada Ray malam itu: so Ray…anda ini di kbri menangani apa sih? TKI or apa? Jawabnya: saya itu bertanggung jawab untuk urusan ekonomi mas…tapi karena di KBRI kekurangan orang ya saya juga ikut membantu TKI dan juga ikut membantu unit protokoler dalam artian pendampingan terhadap Delegasi RI mas….

Saya pun hanya bisa berkata OOooooOOOoooo sambil berfikir..jadi selama 4 hari ini beliau menghandle saya dan delegasi, TKI, dan masalah ekonomi??

Lalu pertanyaan terakhir saya kepada Ray adalah: jam kantor kbri khan jam 9 pagi Ray…trus dengan seabreg aktivitas itu anda rata-rata pulang jam berapa tiap harinya? Jawab Ray: jam 10 or 11 malam mas….kadang bisanya ketemu anak cuman sabtu dan minggu…itupun kadang weekend2 diminta kerja apabila ada tugas or kunjungan….

Saya pun kasihan sama Ray….orang bilang jadi PNS enak…jadi diplomat enak…tp mungkin ya org hanya melihat dari luarnya saja…gak melihat secara keseluruhan….tidak secara utuh…

Jadi saya pas membaca artikel Saudara Hasyim Widhiarto yang dimuat di Jakarta Post (kutipan artikel akan disertakan dibawah tulisan ini -menyusul)…saya semakin kasihan sama Ray dan diplomat Indonesia yang disatu sisi sudah bertugas dengan baik dan jujur namun disisi lain publik tetap beropini diplomat indonesia dimanapun bertugas selalu berfoya foya dan tidak profesional……memang kadang ada suatu sistem or pihak yg corrupt dan tidak profesional…tp men-stereotype bahwa semua diplomat Indonesia tidak profesional, corrupt dan berfoya gara2 tindakan segelintir oknum diplomat yg tidak bertanggung jawab (yang skr sudah masuk penjara dan bermasalah) sepertinya sedikit one sided….kurang fair menurut saya setelah pengalaman saya dengan Saudara Ray….

Saya sih masih menaruh harapan pada diplomat lainnya seperti Ray yang menjalankan tugas nya dengan maksud mengabdi kepada negara…saya mendoakan bahwa di dalam suatu budaya atau sistem negara yang corrupt pun masih terdapat pihak pihak yang tulus dan jujur bekerja demi membangun negeri ini, baik itu diplomat, hakim, bankir, wartawan, jurnalis, apapunlah profesinya…

-FJM-

——————————————————————————————–

Kutipan Artikel Saudara Hasyim Widhiarto

RI diplomats abused state funds: Report

Hasyim Widhiarto, The Jakarta Post, Jakarta | Thu, 12/16/2010 10:39 AM | Headlines

Children’s magazine subscriptions and a luxury bag are just a few of the purchases made by Indonesian diplomats overseas — and paid for by public funds, according to a recent audit.

Already given access to first-class facilities financed by the state budget while overseas, Indonesian diplomats have claimed benefits at taxpayer expense.

An audit by the Supreme Audit Agency (BPK) of Indonesia’s embassies in Singapore and Rabat, Morocco and its consulate in Frankfurt, Germany, revealed a long list of personal expenses allegedly paid for by state funds.

The audit, a copy of which was obtained by The Jakarta Post, covered the posts’ finances for 2008 and 2009.

The BPK’s random audit of official payment receipts collected by the embassy in Singapore unearthed personal charges for a S$23.95  (US$17.60) tank-top dress, a S$219 Braun Buffel bag and S$47 subscription payments for Bobo and Donald Duck magazines and Nova women’s tabloid — all imported from Indonesia.

“There has been a tendency for technical attachés or home staff [in Singapore] to process all bills as official expenditures without evaluating whether or not some of them were actually for personal expenses,” the report said.

The consulate in Frankfurt spent ¤77,005 ($102,416) to pay the mission’s cellular phone bills while there was no mechanism to ensure the phones were used for official busines only, according to the report.

According to the BPK, paying the phone bills violated several regulations, including a 1983 Foreign Ministry internal decree that requires diplomats to log long distance and international calls.

A 2008 diplomatic cable sent by the  Foreign Ministry’s general secretary instructed overseas representative offices to temporarily terminate claims for such bills until it issued a standard operating procedure for cellular phone use.

In Rabat, the BPK said Indonesia’s ambassador to Morocco had spent $25,419 from the embassy’s budget on non-existent “representation activities”.

Diplomat are entitled to representation funds to finance activities related to diplomatic functions, such as dinner receptions and other networking events.

The ambassador could not provide guests lists for dinner receptions he claimed he held, according to the BPK.

The BPK also could not find the ambassador’s name in the guest book of the venues that he claimed held the receptions.

Foreign Ministry spokeswoman Kusuma Habir confirmed receipt of the BPK’s audit but not of the detailed version detailing the alleged misuse of state finds.

“We are very sure that our employees have not been using the state budget for personal expenses,” she said, adding that overseas

staff received several benefits, including  payment of telecommunication expenses.

The take-home pay for Indonesian diplomats ranges from $3,000 and $10,000, excluding benefits.

Critics regard the Foreign Ministry as one the nation’s most corrupt institutions.

In August, the Corruption Eradication Commission (KPK) detained former Indonesian ambassador to the US Sudjadnan Parnohadiningrat after he was named a suspect in a graft case related to the renovation of the Indonesian Embassy in Singapore in 2003. Sudjadnan was at that time the Foreign Ministry secretary-general.

In July, prosecutors named several ministry officials as suspects for allegedly inflating airfare costs for diplomats returning to Jakarta.

Former foreign minister Hassan Wirajuda and current Indonesian ambassador to China Imron Cotan have also been implicated in the case.

About these ads

About FJM

I am an eternal learner. Learn by reading and writing. It helps to make piece of information that I just learned linger in my head. That's good I also want to share my knowledge. Be it the simplest information, or even trivial. I have two sites, this one which I will mostly write in Indonesian and www.fjmurdiansyah.com which I am practicing to write in English. I hope we all could share ... anything.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

11 Responses to Diplomat Indonesia : Pengalaman Saya dan Tulisan Hasyim Widhiarto

  1. Bambang Setiawan says:

    I am one of diplomat but to be honest what was written by Hasyim (the above journalist) did something happen few years back before all the changes took place. I wonder why he wrote it now and Jakarta Post put it as the headlines. The case of Sudjadnan and Imron Cotan (which may involve our previous Minister) was found by our INTERNAL system and the internal system reported to the authority. This is to say that the anti-corruption system does work in Kemlu. But why it is in the opposite used to blackmail us?? Cannot Indonesians support for these latest efforts?

    For Bobo magazine things, I would not comment because I didn’t do that. But I wish our country will have FPO system like USA or UK guys where all foreign diplomats (and Army) pay local cost for sending and receiving mail/parcel/packages. We do not want our kids get brainwashed by foreign contents and need to introduce them with what we think Indonesian value. If that gentlemen chose to order Bobo, that is entirely his decision, but I am talking about teaching our kids with Indonesian value and one of its way through magazine.

    Regarding the phone call, anybody in Indonesia knows that RECEIVING calls is a cost here?? When we are asked to open our mobile phone 24 hours/day to serve the community we received hundreds of calls a day starting from business matters to personal things. Read this Forum at Kaskus to open your mind what is happening here (especially “suka duka Konsuler”):

    http://www.kaskus.us/showthread.php?t=3742665

    Who is going to pay these calls?. Note: we are not talking “MAKE A CALL” which is definitely country has to pay. This is RECEIVING calls.

    • FJM says:

      Hai Bambang,thank you for sharing us this story.i didnt know that the provider charges us when we receive some calls.that explains why some embassies create some mechanism to cover this expense.

      I dont know bout the bobo mechanism, so im gonna leave this open for discussions and inputs. This goes the same with the ticket and renovation case.

      Salam

  2. Bambang Setiawan says:

    Hi FJM, thanks for giving me a chance to write my opinion.

    For Bobo magazine my comment remains the same, but I just quote the other reader’s comment that it may also part of the library collection. And indeed if you visit foreign Embassies in Jakarta you will also see many similar magazines place there.

    For ticket and renovation case, it is on KPK now and as I said it was reported by our INTERNAL system. Take randomly from many Department/Government Ministries in Indonesia, did you ever heard or find their staffs (Pejabat) were brought to court by their own INTERNAL system. No…. not even in Police or Kejaksaan which should be part of our justice system. Those Pejabats were either caught by KPK or Tipikor. But for Kemlu (Deplu) it is our own system who took the action. And Hasyim (the journalist) still writes it as it is a bad thing.

    Moreover, if you want to know, this year (2010), KPK praises Kemlu for its effort to fight corruption by increase Kemlu’s rank from 12 in 2009 to 6 in this year.

    About the phone call things, yes, you can search for some providers in the northern America such as Bell, Rogers, will charge the customers not only for receiving calls but also Text (SMS)!!. It depends what plan you are using, the higher monthly charge (Plan) the lesser daily phone cost. But if we take the higher monthly charge the question does remain who is going to pay the bill? Phone calls are expensive here.

    Further I also wrote the below comment on Jakarta Post (JP) comment box by quoting what other reader writes that:

    [quote]“as …BPK itself realized that Mobile phone has become more popular and State need to responsible for this since many calls were related to business matters”. ….”the Ministry of Finance through Dirjen Anggaran has issued decree no S-374/MK.2/2009 (dated Aug 7th, 2009) stating that personal mobile phones’ expenses can be covered by APBN (State Budget)”.[/quote]

    So it means all diplomats are now receiving money for his/her mobile phone expenses and that is LEGAL!!!

    But with Hasyim’s article people may think that we are corrupting State money with these phone expenses since he wrote 2008 reports a very old one, where we are aprroaching 2011 in the next few days.

    I am curios if there is a hidden agenda done by this journalist or JP to mislead the readers with old reports. I suspect there was an issue of rivalry between Jakarta Post and Jakarta Globe in this matter with an aim to give a “signal” to Kemlu that JP could do even worst if Kemlu look for another newspaper.

    My only suggestion to JP (which also I wrote on JP comment box) as follows:

    1. Change JP layout to be more international look;
    2. Increase the subscription fee. JP foreign readers will not be bothered with it. Cheap price gives an assumption JP provides a cheap taste;
    3. Hire foreign editors for international taste;
    4. Pay good remuneration for JP local journalists/editors, and
    5. Last but not least, not heavily rely on the internet but give JP journalists more chance for travel abroad.

    thanks

    Bambang Setiawan

  3. FJM says:

    Hi Bambang,

    That’s might be it. I dont know bout the Nova magazine, but maybe the personnel ordered bobo in order to complement the embassy’s library collection of children books as social activities that involve children are usually held on Saturday by the embassy (such as: pengajian, kesenian, etc).

    For ticket and renovation case, I ‘m not really updated with the issue.. so i will just simply ‘no comment’ upon this one.

    And thank you for stating the Ministry of Finance decree no S-374/MK.2/2009 which allows personal mobile phone’s expenses to be covered by the stat budget. I havent had the chance to read the decree, but Im sure not many of us aware the existence of this decree. Thank’s for updating us.

    Salam

  4. arhanud says:

    masih sedikit sekali diplomat yang bener-benner diplomat, Diplomat sekarang banyak yang didik tidak sesuai setelah di luar mereka merasa mereka paling tinggi “Gue DIplomat”, suka arogan terhadap bawahan, manis di luar pahit di dalam.para diplomat bermandikan dollar, kekuasaaan dan jabatan memang tidak di pungkiri. Diplomat2 asing yang berada di luar negeri, mereka adalah benar2 Diplomat yang menunjukkan kualitas berbanding terbalik dengan Indonesia, masih sedikit sekali Diplomat yang benar2 menunjukkan kualitas dan humanitasnya. biasanya Diplomat akan menunjukkan kepada bawahannya dan masyarakat/warga Indonesia di Luar Negeri bahwa Jabatan Mereka adalah Diplomat, lebih tinggi dari kalian.
    kesewenang-wenangan dan ketidak adilan terhadap para pegawai pun seperti itu mereka menindas para LOKAL STAFF dan menjadikan LS sebagai Kacung, bukan sebagai partner kerja.mereka maunya manis saja nama mereka.ada banyak diplomat2 kita di luar negeri benar-benar memanfaatkan dan mencari atau mengeruk dollar selama di Luar Negeri, mereka memanfaatkan segala fasilitas dan membuat suatu program agar mereka mendapat perjalan dinas. padahal gaji mereka sudah besar kurang lebih US$.7000 untuk DUBES belum di tambah uang BOK ( Biaya Operasional khusus) US$.2500 diplomat terendah kurang lebih US$ 3000 tanpa anak, masing2 berbeda tiap negara tujuan penempatan para diplomat tersebut, tunjangan kesehatan dan lain2nya, tapi masih saja mereka merasa kekurangan alias mencari tambahan dengan berbagai acara.mereka sama sekali tidak mau mengeluarkan uang untuk urusan pribadi dan mereka umumnya minta di bayarkan oleh kantor, biasanya mereka menggunakan uang pribadi terlebih dahulu kemudian baru minta penggantian dari kantor.itu semua bisa diatur asalkan BPKRTnya kooperatif, jarang sekali BPKRT yang bisa mengatakan tidak pada kekuasaan DUBES. dan apabila DUBES salah pun para DIPLOMAT tidak berani memperbaiki, cenderung mengikuti kemauan DUBES dan BU DUBES alasannya mungkin mereka takut karir mereka terhambat gara2 memprotes seorang DUBES. apalagi DIPLOMAT2 Muda, karena karir mereka masih panjang. inilah sistem di KEMLU yang saya lihat disini walau katanya benah diri tapi masih banyak para DIPLOMAT berkelakuan yang tidak baik, masih banyak yang memperkaya diri.
    terhadap kebijakan2 internal di lingkungan KBRI itu sendiri, perlakuan para diplomat bisa dibilang SOMBONG atau ANGKUH terhadap anak buah (LOKAL STAF),dari mulai pekerjaan, soal gaji dan lembur, mereka masih saja iri terhadap LOKAL STAF, mereka tidak inginmelihat LOKAL STAFF sejahtera, makanya di buat peraturan agar gaji LOKAL STAF tidak boleh melebihi gaji HOME STAFF(DIPLOMAT) dan fasilitas lainnya. pekerjaan para DIPLOMAT masih banyak mengenai PENCITRAAN agar nama DUBES mereka naik, sehingga mendapatkan promosi Jabatan. ada acara2 yang di buat oleh dubes dan istrinya dengan menggunakan nama “BAAZAAR” tetapi sesungguhnya mereka berjualan barang sendiri baju2 batik dan aksesorisnya,mereka mempekerjakan LOKAL STAFF dan lainnya tanpa uang lelah, hanya terimakasih. padahal keuntungan mereka banyak, diliput media setempat, mendapat keuntungan lebih, berita tersebut kemudian di kirim ke Jakarta dan kemudian publish di salah satu media online dengan judul BAAZAAR……..bla bla bla, sehingga Jakarta menganggap KBRI tersebut aktif mempromosikan barang2 Indonesia tetapi sebetulnya tidak, ini agar DUBES tersebut naik karirnya menjadi IRJEN KEMLU, suatu cara buruk yang di tempuh dalam meniti karir ini terjadi di Benua Afrika, tepatnya afrika barat.

    • FJM says:

      Dear Mas Arhanud,

      terima kasih atas info dan masukannya. kalau saya boleh menarik garis asumsi, apakah mas lokal staf di salah satu kedutaan RI di negara afrika barat?

      Moga2 tanggapan mas arhanud mendapat perhatian dan memberikan kritik yang membangun ya mas sama kondisi yang mungkin terjadi

      saya juga berharap, masih banyak diplomat muda Indonesia yang masih memiliki nasionalisme dan idealisme dalam bekerja, baik itu bekerja secara profesional maupun bekerja secara manusiawi dan toleran…

      • arhanud@gmail.com says:

        betul mas…mantan Lokal Staff di situ tapi dah lama, saya hanya prihatin kenapa tidak ada perbaikan untuk LS sedangkan HS terus di perhatikan, kasihan teman2 saya.masih ada Diplomat yang baik dan benar2 real Diplomat tapi sedikit sekali saya pernah temui tapi mereka mau berbuat apa??hal seperti itu sudah menjadi budaya di Kemlu, ada DUBES benar2 baik sekali menurut teman saya pak TOSARI WIJAYA, dia dekat dengan masyarakat dan dekat juga dengan mahasiswa. pun mahasiswa sangat apresiasi terhadap DUBES yang satu ini jarang di temui DUBES seperti ini.mereka sebenarnya mau mengadukan nasibnya tapi kemana, mungkin tidak akan di tanggapi.”Lu udah kerja di Luar Negeri juga dah syukur, coba lu cari kerja di Indonesia?” hal yang seperti ini sekarang yang menjadi senjata mereka untuk menekan LS, LS berangkat ke luar negeri tidak di biayai oleh KEMLU,mereka urus sendiri, visa bayar sendiri, Ijin tinggal urus dan bayar sendiri.fakta-fakta sudah banyak mas, bisa buka

        http://forum.kompas.com/nasional/99741-mudahnya-menyelewengkan-bea-jalandinas-di-kbri-mexicocity-serta-membuat-nota-bodong.html

        http://www.tribunnews.com/nasional/2012/08/12/mahasiswa-kecam-dubes-ri-di-yaman-yang-bekerja-buruk

        ini baru salah satu, banyak lagi yang di sembunyikan rapat2

  5. Informas yg bagus. Tp men gak usah keliatan mengeluh krn ini sudah tanggung jawab sebagai diplomat seorang abdi negara. Semua kerjaan pasti ada sisi negatif dan positifnya. Menjadi diplomat spt saat ini krn keputusan dimasa lalu, jd harus tetap istiqomah terhadap kerjaan walopun kadang kekurangan. Salut ama si Ray walopun merasa kekurangan tap tetap menjalankan amanah. nah yg diplomat2 sombong dan korupsi semoga cepat terlacak oleh KPK dan dijebloskan di penjara.

  6. arhanud says:

    seperti yang saya katakan, diplomat yang benner2 bekerja untuk negara ini bisa terhitung, karena mereka tulus dalam bekerja kita harus mendukung yang seperti itu, yang kita butuhkan adalah diplomat yang benner2 berdiplomasi untuk kepentingan negara kita, bukan yang bener2 aji mumpung mengumpulkan dollar di Luar Negeri, beda sekali DIPLOMAT KARIR Dan DIPLOMAT NON KARIR, Diplomat karir cenderung tidak mau melakukan perubahan, atau suatu usulan yang benner2 reformasi khawatir posisinya di geser atau pangkatnya tidak naik setelah pulang tugas dari Luar Negeri..mereka larinya ke Materi soal kerjaan kan ..ada Lokal staff, mereka tinggal santai2, KPK belum berani membongkar lingkaran setan yang ada di KEMLU…terutama para DIPLOMATNYA…..yang kadang2 mengaku rumahnya kecil, tapi di Luar itu punya tanah berhektar2 atas nama orang lain, dan punya toko di mangga dua dan tempat lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s