NAMRU


Psst..hey, tahukah anda wahai penduduk Jakarta bahwa di tengah tengah kehidupan metropolitan ini terdapat laboratorium militer terbesar di Asia Tenggara?Yup..laboratorium militer terbesar di Asia Tenggara yang bernama NAMRU alias Naval Medical Research Unit milik Amerika Serikat.Laboratorium militer ini terletak di JL. Percetakan Negara No. 26 Salemba dan merupakan laboratorium tempat penyimpanan berbagai macam virus dari seluruh pelosok Indonesia sebelum data sample virus tersebut “dikirim” ke Atlanta Amerika Serikat.

Laboratorium ini atau NAMRU mempunyai standar keamanan yang sama dengan kantor Kedutaan Besar AS di JL. Merdeka Selatan, Jakarta. Penjagaan sangat ketat. Publik bisa untuk mendatangi NAMRU tetapi hanya dengan izin yang diberikan oleh pihak Hubungan Kemasyarakatan Kedutaan Besar AS.

Apa sih NAMRU itu?

Cikal bakal dan asal muasal lahirnya NAMRU dimulai ketika pada tahun 1968 Indonesia dilanda oleh wabah pes di daerah Boyolali. Pemerintah Indonesia pada saat itu lantas meminta bantuan Departemen Kesehatan AS untuk menanggulangi wabah tersebut. Misipun sukses.

Berselang 2 tahun kemudian pada tahun 1970, terjadi wabah malaria (yang terdapat 2 versi, ada yang mengatakan wabah malaria saat itu sangatlah dahsyat dan pandemic, sementara ada yang mengatakan wabah malaria pada saat itu masih pada level terkontrol..hmm) di irian Jaya (saat itu namanya masih Irian Jaya). Indonesiapun mengundang AS sekali lagi untuk menanggulangi masalah ini. AS setuju dengan syarat, dimana kali ini pihak AS menginginkan adanya semacam MoU yang mengatur kerjasama di bidang kesehatan tersebut. MoU inilah yang akhirnya menjadi kontroversi.

Dikatakan didalam MoU tersebut, pihak AS meminta pemerintah Indonesia meyediakan tanah gratis untuk pendirian laboratorium beserta perawatannya (iya bener..beserta perawatannya), penyediaan rumah yang memadai bagi para personel NAMRU asal AS, kebebasan pajak impor mobil, motor, dan barang – barang lainnya, dan canggihnya lagi..kewajiban pemerintah Indonesia untuk memberikan kekebalan diplomatic pada semua staff peneliti NAMRU termasuik untuk memasuki SELURUH WILAYAH Negara Indonesia. Canggih khan…? Sekali lagi…SELURUH wilayah Negara Indonesia guys…(coba kaitkan dengan politik ya..)

MoU pun akhirnya ditanda tangani antara Menteri Kesehatan RI G.A Siwabessy dan Duta Besar AS untuk Indonesia Francis Galbraith pada 16 Januari 1970.

Setelah beberapa tahun kemudian laboratorium lapangan NAMRU juga didirikan di Irian Jaya. Kepentingannya adalah untuk penelitian malaria dan HIV/AIDS. Bahkan NAMRU pernah mengirim beberapa staff ke Irian Jaya pada tahun 1992-1995 untuk mengambil sampel darah para transmigran di Kampung Arso X-XII, Jayapura secara periodik.Mmm..kalau gak salah periodic itu artinya berkala ya? Berkala itu artinya bolak balik khan? Keren deh AS bisa bolak balik ke Irian Jaya yang sangat strategis itu..ck ck..

Banyak wacana yang beredar dilapangan bahwa NAMRU tidak memberikan kontribusi positif dan malah merugikan Indonesia secara strategis. Silahkan dimulai research teman teman semua apa sih positif dan negatifnya NAMRU bagi Indonesia. Saya tidak akan membahasnya disini. Lho? Lalu apa tujuannya menulis?Ada…tenang aja. Ini tujuannya…

Undang Undang No 24/2000 dan UU No. 37/1999

Kalau memang NAMRU itu merugikan Indonesia, lalu apa tindakan pemerintah Indonesia? Setelah tumbangnya rezim Orde Baru, tepatnya tanggal 18 Oktober 1999, Menteri Luar Negeri saat itu mengirim surat ke Presiden yang berkuasa saat itu yang meminta perjanjian NAMRU ditinjau ulang. Surat ini mendapat respon positif dan ditindak lanjuti oleh penghentian SEBAGIAN program NAMRU oleh Menteri Luar Negeri berikutnya (dihentikan sebagian karena ada projek penanggulangan diare dan SARS yang berguna untuk Indonesia) pada tanggal 28 Januari 2000.

Pada tanggal 25 Agustus 2004, Menteri Luar Negeri saat itu mengirimkan surat ke beberapa menteri coordinator terkait yang isinya rekomendasi untuk segera menutup projek NAMRU segera. Per 1 Januari 2006 segala aktivitas NAMRU di Jakarta pun dihentikan. Namun, kasus flu burung yang menimpa Indonesia membuat NAMRU untuk masih tetap membantu Indonesia dalam penanggulangannya.

Januari 2007 Departemen Luar Negeri RI bersama dengan departemen teknis terkait dan delegasi AS bertemu di Jakarta membicarakan “pembaharuan perjanjian NAMRU” yang lebih menguntungkan untuk Indonesia. Beberapa klausul menjadi perdebatan, hingga November 2007, Indonesia memberikan draft terakhir ke Washington, dengan memasukkan klausul klausul yang tetap tidak disetujui AS. 1 April 2008 menteri Kesehatan AS Michael O. Leavitt berkunjung ke Indonesia dan membahas perpanjangan NAMRU dimana Deplu merekomendasikan kepada departemen terkait untuk menolaknya. 18 April 2008 Departemen Kesehatan RI melarang pengiriman sampel ke NAMRU hingga ditanda tanganinya perjanjian baru.

Uraian diatas menunjukkan betapa pentingnya UU No 24/2000 tentang Perjanjian Internasional (“UU PI”) dan UU No.37 tahun 1999 tentang Hubungan Luar Negeri (“UU Hublu”). Dimana dulu sebelum lahirnya 2 UU ini segala bentuk hubungan luar negeri dan perjanjian internasional belum mempunyai aturan yang jelas, sehingga control dan mekanisme pengawasannya amatlah rendah. Koordinasi antar departemen juga terlihat ‘jalan sendiri sendiri’. Untunglah sekarang tidak lagi..

Dalam hal ini Deplu adalah pelopor dan pihak yang melahirkan kedua UU tersebut, namun jangan di salah artikan bahwa Deplu adalah pihak yang bertanggung jawab atas seluruh pelaksanaan Hubungan Luar Negeri dan pembuatan Perjanjian Internasional. Sebagaimana diatur dalam kedua UU tersebut, bahwa pelaksanaan hubungan luar negeri dan Perjanjian Internasional dapat dilaksanakan oleh semua pihak dengan koordinasi dengan Deplu. Hal ini berarti bahwa implementasi teknis dari perjanjian internasional tersebut adalah tanggung jawab departemen teknis terkait untuk dilaksanakan montoring ketat sesuai dengan spesifikasi teknis yang diperlukan departemen tersebut.

NAMRU adalah suatu contoh kelalaian kita, namun demikian, kini kita tengah melakukan negosiasi yang sangat alot agar keberadaan NAMRU tidak mempunyai dampak negative untuk bangsa Indonesia. Semoga semua pihak tergerak untuk mengawasi kegiatan kegiatan yang dapat merugikan kepentingan bangsa Indonesia dan dapat menggunakan secara maksimal menggunakan kedua UU tersebut diatas dalam rangka menjalankan hubungan luar negeri dengan Negara lain yang lebih berdaya guna bagi Indonesia.

-FJM-

About FJM

I am an eternal learner. Learn by reading and writing. It helps to make piece of information that I just learned linger in my head. That's good I also want to share my knowledge. Be it the simplest information, or even trivial. I have two sites, this one which I will mostly write in Indonesian and www.fjmurdiansyah.com which I am practicing to write in English. I hope we all could share ... anything.
This entry was posted in Political Issues and tagged , , . Bookmark the permalink.

One Response to NAMRU

  1. quinie says:

    mari buat kerjasama internasional yang mutualisme!🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s