Tulisan Yang Menarik (setidaknya bagi Saya)..


Sangat menarik membaca artikel yang di buat Pramono Anung selaku wakil ketua DPR dan juga petinggi PDIP yang dimuat hari ini,18 Juni 2010, di harian Kompas..

Saya melihat Pramono Anung sebagai orang yang sangat loyal dan disiplin di dalam membela dan menjunjung tinggi kehormatan Ibu Mega.Oleh karena itulah,artikel beliau sungguh sangat multitafsir.Kenapa multitafsir?multitafsir karena beberapa hal sebagai berikut:

1. Artikel beliau secara tidak langsung mendukung hipotesa awam akan perlunya regenerasi kepemimpinan politik nasional yang terwacanakan secara luas dengan terpilihnya Arnas Urbaningrum selaku Ketua Umum Partai Demokrat.

2.Artikel tersebut dibuat ditengah isu pecahnya Setgab Koalisi karena wacana Dana Aspirasi yang didukung bulat oleh Partai Golkar namun ditinggalkan oleh partai lainnya.

3. Artikel tersebut dibuat ditengah ‘nyaman’nya pak Taufik Kiemas duduk di dalam struktur salah satu organ negara yaitu Ketua MPR.

4. Artikel tersebut dibuat ketika PKS mencoba mentransformasikan diri dari partai berhaluan kanan menuju partai islam yang lebih terbuka (tengah).

5. Artikel tersebut dibuat setelah naiknya Bu Mega sebagai Ketua Umum PDIP utk periode berikutnya.

Buat saya Artikel tersebut sangat menarik. Menarik karena secara langsung yang berputar putar di kepala saya setelah membaca artikel tersebut adalah sbb:

1. Kalau wacananya REGENERASI (catat:capslock mode on) kepemimpinan nasional. Lalu dimana posisi Pramono Anung dalam Pemilu Nasional 2014 nanti? Apakah beliau sudah menafi kan Megawati selaku Ketua Umum PDIP yang seyogyanya maju sbg capres pada 2014 nanti?

2. Saya yakin Pramono Anung paham betul bahwa PDIP adalah Ibu Mega dan bukan Taufik Kiemas apalagi Pramono Anung. Lalu, apakah secara eksplisit dengan menyatakan “Tak ada salahnya berharap presiden empat tahun mendatang adalah tokoh muda” (baris terakhir artikel beliau), beliau mewacanakan ‘revolusi terbuka’ di dalam tubuh PDIP?Ataukah beliau mengindikasikan adanya konsesi internal akar rumput PDIP yang menginginkan dirinya (atau setidaknya putri bu Mega -Puan) maju di dalam bursa 2014?Kalau iya, berapa basis masa kedua tokoh ini?Cukup besarkah mereka berdua untuk maju menantang kandidat lain dalam 2014?Dan kalau mereka yang maju pada 2014 nanti…apakah PDIP akan ‘masih ada’ (baca:tidak bubar) di dalam perpolitikan Indonesia kedepan?

3. Atau jangan-jangan beliau sekarang sedang lirik2an dengan Demokrat (Anas Urbaningrum) karena Golkar dan PKS dinilai sangat ‘licin’ dalam politik?Bisa jadi Pramono Anung sedang membaca betul potensi Anas Urbaningrum yang jebolan HMI plus politik pencitraan yang sedang trend di Indonesia dan tampaknya melekat secara otomatis (pencitraan) di dalam diri Anas Urbaningrum..

4. (Oh iya lupa…Golkar lagi perang terbuka antara Aburizal dan Surya Paloh ya? -masing masing memiliki stasiun TV sebagai aset yang sungguh sangat berarti bagi kampanye politik). Saya yakin kedepan Anas Urbaningrum yang berjubahkan lulusan HMI pasti akan ‘akrab’ dengan salah satu diantara kubu Surya Paloh atau Aburizal Bakrie..sesuatu yg mungkin menjadi daya tarik bagi Pramono Anung..

Menarik…sungguh menarik….sepertinya Pemilu 2014 akan membawa euphoria dan keunikan tersendiri..setidaknya bagi saya..

Apa betul skenario diatas akan terjadi?well..saya simpan catatan gundah gulana ini disini dan mari kita tunggu 2014 nanti..

Berikut saya kutip tulisan Pak Pramono Anung dari harian Kompas (18 Juni 2010) yang menurut saya sangat menarik…

Enjoy

-FJM-
————————–

Pertaruhan dan Pertarungan Generasi
Oleh: Pramono Anung

Dalam sebuah obrolan ringan, seorang teman tiba-tiba mengajukan pertanyaan, ”Akankah Anas Urbaningrum jadi calon presiden pada pemilu mendatang?” Belum lagi pertanyaan itu saya jawab, ia langsung menimpalinya sendiri, ”Menarik bila presidennya nanti masih muda.”

Yang disampaikan teman saya itu boleh jadi bukan sesuatu yang baru karena mungkin telah jadi pembicaraan banyak orang. Yang menarik dari pernyataan itu adalah bahwa keberhasilan Anas jadi Ketua Umum Partai Demokrat ternyata telah melahirkan gereget atau antusiasme tersendiri menyangkut suksesi generasi.

Seperti halnya kebanyakan politikus muda lainnya, Anas sejatinya bukan sosok yang telah lepas dari bayang-bayang seniornya. Namun, suksesnya menjadi ketua umum partai besar, yang notabene peraih suara terbanyak dalam Pemilu 2009, telah mempertegas keberadaan tokoh politik muda dalam pentas elite politik nasional saat ini.

Tokoh politik muda kini tak lagi (sepenuhnya) dipersepsikan sebagai politisi ”kelas dua”. Mereka bahkan dinilai telah memiliki kesempatan yang relatif sama dengan senior-seniornya, termasuk tentu saja kesempatan ikut berkompetisi dalam ajang seleksi kepemimpinan nasional.

Soal kepercayaan

Pertanyaannya, akankah alih generasi kepemimpinan nasional bakal terjadi empat tahun mendatang?

Dibandingkan dengan tokoh- tokoh dari generasi lama, setidaknya mereka yang sudah berkiprah dalam panggung politik nasional dalam kurun satu dasawarsa terakhir, reputasi tokoh muda dari generasi baru relatif belum teruji. Ini tentu menjadi titik lemah tersendiri.

Namun, titik lemah itu bukanlah sebuah kartu mati. Sebaliknya, ia justru akan menjadi kartu truf jika tokoh-tokoh muda jeli membaca situasi. Situasi yang saya maksud tak lain tak bukan suasana psikologis rakyat menyangkut keadaan sosial-ekonomi serta tata kehidupan di bidang politik dan hukum yang berkembang sekarang.

Di bidang sosial-ekonomi, sebagaimana yang kita saksikan selama ini, belum ada lompatan signifikan yang membuat kehidupan rakyat bisa sepenuhnya terangkat. Demikian juga di bidang politik dan hukum: yang terjadi justru pekatnya nuansa persekongkolan untuk menggunakan kekuatan politik demi menyiasati persoalan hukum.

Dari situasi yang ada, cukup beralasan jika disimpulkan bahwa sekarang ini rakyat sebenarnya tengah memendam rasa kecewa. Karena itu, yang penting disadari oleh tokoh-tokoh politik muda adalah bahwa kesempatan yang datang itu harus dimaknai sebagai sebuah arena pertaruhan untuk merebut kepercayaan.

Mereka tidak saja dituntut menunjukkan jati diri sekaligus lepas dari bayang-bayang seniornya, baik dalam sikap maupun dalam pemikiran yang dinilai tidak populer di mata rakyat.

Mereka juga harus mampu menundukkan hati rakyat dengan gagasan-gagasan tentang perubahan yang bisa membawa Indonesia menuju perbaikan.

Dituntut ”legowo”

Yang harus dilakukan tokoh- tokoh politik muda itu memang bukan tantangan ringan. Namun, itulah kartu truf sebagaimana yang saya maksudkan yang memungkinkan terjadinya alih generasi kepemimpinan nasional empat tahun mendatang.

Dalam kalkulasi saya, jika tokoh-tokoh muda memiliki kesadaran untuk menjadikan kesempatan yang ada sekarang sebagai arena pertaruhan merebut kepercayaan, dalam empat tahun ke depan alih generasi akan terus memperoleh penguatan. Adanya penguatan ini, langsung atau tidak, tentu akan memengaruhi sikap tokoh-tokoh dari generasi lama.

Mengapa? Karena penguatan itu tak ubahnya sebuah tuntutan. Seiring dengan terjadinya penguatan itu, tokoh-tokoh dari generasi lama sebenarnya tidak saja ”dipaksa” mengikuti ”kehendak zaman”, tetapi juga harus bersikap legowo memercayakan tongkat estafet kepemimpinan nasional kepada tokoh-tokoh muda.

Mereka juga harus meredam ambisi untuk (kembali) mencalonkan diri. Soalnya, apabila mengambil sikap yang berlawanan, tokoh-tokoh dari generasi lama tersebut harus berhadapan dengan arus besar nan kuat: tuntutan rakyat itu. Apalagi jika dalam kurun empat tahun ke depan, ternyata mereka semakin tidak mampu memikat hati rakyat.

Namun, yang harus digarisbawahi: harapan terjadinya alih generasi kepemimpinan nasional itu hanya akan menjadi impian semata jika ternyata tokoh-tokoh politik muda gagal merebut kepercayaan. Rakyat pasti tak akan berani berspekulasi dengan memilih pemimpin yang tidak teruji. Sementara itu, tokoh-tokoh lama tentu masih akan memiliki kepercayaan tinggi untuk mencalonkan diri.

Jadi? Tak ada salahnya berharap presiden empat tahun mendatang adalah tokoh muda, sebagaimana harapan teman saya. Namun, tentu kita juga harus siap jika ternyata kepemimpinan nasional masih tetap akan dikendalikan tokoh lama. Yang pasti, ruang pertarungan antargenerasi kini telah terbuka.

Pramono Anung Wibowo Wakil Ketua DPR

About FJM

I am an eternal learner. Learn by reading and writing. It helps to make piece of information that I just learned linger in my head. That's good I also want to share my knowledge. Be it the simplest information, or even trivial. I have two sites, this one which I will mostly write in Indonesian and www.fjmurdiansyah.com which I am practicing to write in English. I hope we all could share ... anything.
This entry was posted in Political Issues. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s