Hikayat Perairan Bintan


Tragedi penangkapan petugas Pengawas Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan di Perairan Bintan, Kepulauan Riau harus membuat kita waspada. Ada kecenderungan yang sama yang dilakukan Malaysia di dalam upayanya melakukan klaim terhadap wilayah tersebut sebagaimana mereka lakukan terhadap Sipadan Ligitan.

Pemerintah Malaysia sebelumnya melakukan klaim terhadap wilayah perairan Bintan sebagai wilayah kedaulatannya dengan mengeluarkan peta secara sepihak, namun Pemerintah Indonesia telah menyatakan sikap tegasnya yang menolak klaim unilateral tersebut.

Pengalaman yang kita dapat dari Sipadan Ligitan adalah atas wilayah kepulauan terluar kita harus melakukan pengawasan dan penguasaan efektif atas wilayah tersebut. Kaitannya dengan Perairan Bintan lalu apa? Kaitannya adalah diperlukannya suatu patroli perikanan di wilayah tersebut. Sebuah catatan yang saya dapat adalah, jumlah hari operasi Kapal Pengawas Kelautan dan Perikanan pada tahun 2010 ini adalah hanya 100 hari sebagai dampak adanya re alokasi anggaran KKP di tahun 2010 ini. Hal ini merupakan suatu penurunan dari tahun sebelumnya yang patroli pengawasan kelautan dan perikanan pada tahun 2009 adalah 180 hari.

Akibatnya adalah pengawasan pencurian ikan di wilyah perairan Indonesia mengalami penurunan dan bahkan bisa menjadi lengah. Tak heran di antara hiruk pikuk Sail Banda 2010, aktivitas pencurian ikan oleh negara asing di wilayah perairan Indonesia cenderung meningkat. Data yang saya baca, hingga akhir Juni 2010 tercatat dari 116 kapal ikan ilegal yang tertangkap oleh kapal Pengawas Perikanan, 112 diantaranya merupakan kapal asing termasuk diantaranya kapal dengan bendera Malaysia.

Pencurian ikan yang dilakukan oleh 5 nelayan Malaysia bisa saja merupakan pencurian yang disengaja. Karena apabila tidak ada protes dari pihak Indonesia, suatu saat Malaysia bisa mengklaim wilayah tersebut sebagai wilayah kedaulatannya.

Kembali ke Sipadan Ligitan, Pemerintah Malaysia cerdas memanfaatkan kelengahan Pemerintah Indonesia atas pengawasan dan patroli terhadap kedua pulau tersebut. Pemerintah Malaysia mengeluarkan izin untuk membuat sarana wisata dan juga pemeliharaan dan pemanfaatan efektif mercu suar di Sipadan Ligitan. Hal ini tidak mendapatkan protes dari Indonesia, sehingga kepemilikan Sipadan Ligitan berdasarkan putusan Mahkamah Internasional adalah dimenangkan oleh Malaysia.

Itulah hal berharga dari kasus Sipadan Ligitan yang musti kita jadikan acuan. Selain itu, kita juga telah memiliki Perpres No. 78 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil Terluar guna menjaga keutuhan wilayah NKRI, keamanan dan pertahanan nasional. Tinggal sekarang adalah bagaimana kita mengelola semua pengalaman tersebut demi kepentingan nasional kita.

Harapan saya dari cerita singkat diatas ada banyak (dan bahkan cenderung idealis):

1. Anggaran TNI dinaikkan (dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014, total kebutuhan dana untuk perawatan dan pengadaan alutsista mencapai Rp 157 triliun. Akan tetapi, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) hanya mengalokasi dana Rp 100 triliun). Hal ini tentuya harus diseimbangi dengan profesionalitas TNI sebagai institusi pertahanan, pengalihan bisnis TNI dan reformasi TNI sebagaimana yang diemban oleh Panglima TNI yang baru dilantik Agus Suhartono yang berasal dari kesatuan Angkatan Laut. (catat:berasal dari AL). Daripada usulan Ketua Umum Golkar yang ingin menambah anggaran Densus 88 secara dramatis dan politis, lebih baik untuk menaikkan anggaran TNI menurut saya mah…

2. Alokasi anggaran pengawasan kelautan dan perikanan KKP yang berimbang dengan patroli pengawasan yang efektif.

3. Kejelasan tanggung jawab dan koordinasi antara institusi2 terkait seperti KKP, TNI (AL, AU dan AD) dsb.

4. Dan sebagainya dan sebagainya…

-FJM-

About FJM

I am an eternal learner. Learn by reading and writing. It helps to make piece of information that I just learned linger in my head. That's good I also want to share my knowledge. Be it the simplest information, or even trivial. I have two sites, this one which I will mostly write in Indonesian and www.fjmurdiansyah.com which I am practicing to write in English. I hope we all could share ... anything.
This entry was posted in Legal Issues. Bookmark the permalink.

2 Responses to Hikayat Perairan Bintan

  1. omtimo says:

    makasih infonya,sungguh bermanfaat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s