Penghentian Pasokan Film dan Kerugian Bagi Amerika Serikat


(artikel dibuat oleh Arief Ilham Ramadhan, seorang Penikmat Film dan Alumni Ilmu Politik UI)

artikel di publish di blog ini dengan izin yang bersangkutan dan ditujukan untuk pemahaman yang berimbang

——————————————————————————————

Sudah tiga hari ini twitter dipenuhi kicauan tentang penghentian sementara distribusi film-film import oleh asosiasi-asosiasi pemasok film import, seperti Motion Picture Export Association of America (MPEAA) dan Ikatan Perusahaan Film Impor Indonesia (IKAPIFI). Penghentian tersebut dikarenakan oleh rencana pemerintah untuk membebankan Bea Masuk Atas Hak Distribusi kepada setiap film impor yang akan diputar di Indonesia. Sontak saja rencana pembebanan pajak baru yang berkonsekuensi pada penghentian ini mendapatkan tentangan keras dari pelaku bisnis distribusi film (importir dan bioskop), pekerja film nasional dan moviegoers.


Pemerintah pasti punya alasan atas rencana pembebanan pajak baru tersebut. Begitu pula dengan MPEAA, IKAPIFI dan 21 Cineplex yang menolak rencana tersebut, masing-masing pasti dilatarbelakangi suatu alasan. Namun, ada satu hal yang lebih menarik ketimbang pertimbangan-pertimbangan ekonomi, yang selama ini luput dari perhatian pers dan publik. Ada satu aspek yang sangat penting bagi Amerika Serikat (AS), yang membuat keseriusan MPEAA patut disangsikan untuk benar-benar konsisten menghentikan pasokan filmnya meskipun jika pemerintah tetap memberlakukan pajak tambahan tersebut. Aspek tersebut adalah diplomasi.

Film dan Diplomasi AS


Film merupakan salah satu instrumen dari soft power diplomacy. Joseph S. Nye, Jr. mendefinisikan soft power sebagai kemampuan untuk mendapatkan apa yang diinginkan melalui atraksi ketimbang melalui koersi ataupun kekuatan finansial. Sebagai alat  diplomasi, Film (tidak hanya sebagai produk, melainkan film secara keseluruhan mulai dari proses produksi, distribusi, hingga ekshibisi) memiliki banyak peran, antara lain di bidang politik, sosial-budaya dan ekonomi. Di bidang politik, film dapat menjadi sarana myth maker. Di bidang Sosial-budaya, film dapat menjadi sarana penyebaran nilai-nilai, sebagai confidence dan peace builder dan sebagai alat promosi kebudayaan. Di bidang Ekonomi, film merupakan komoditas yang sangat menguntungkan melalui pemasukan pajak dan devisa, penjualan merchandise, Foreign Direct Investment dan juga sebagai sarana promosi pariwisata.

AS Serikat bisa dibilang adalah salah satu dari sedikit negara yang sangat berhasil memanfaatkan film sebagai alat diplomasinya. Di bidang ekonomi misalnya, perputaran uang yang sangat besar terjadi dalam industri perfilman AS. Tahun lalu, tercatat total Box Office gross mencapai $10,5 miliar (http://www.the-numbers.com/market/2010.php). Tidak hanya dari penjualan, film juga memberikan keuntungan besar bagi AS mulai dari menyedot banyak tenaga kerja sampai Foreign Direct Investment dari dan ke luar negeri.

Namun, ada yang jauh lebih penting bagi AS dibanding keuntungan ekonomis dari sebuah film, yaitu pencitraan. Film adalah salah satu corong paling penting bagi diplomasi publik AS. AS telah lama menyadari bahwa pembentukan opini publik, mindshaping, dan penyebaran nilai-nilai sangatlah efektif dan efisien jika dilakukan melalui film.

Pengaruh film begitu kuat bagi pembentukan citra AS. Gore Vidal, novelis kenamaan AS mengatakan “He who screens the history makes the history.” Terutama bagi penonton film-film Hollywood, mereka berpikir bahwa film tentang sejarah khususnya, mengisahkan berdasarkan fakta, sekalipun mereka tahu bahwa film tersebut hanyalah fiksi. Bruce Chadwick dalam bukunya The Reel Civil War: Mythmaking in American Film menyimpulkan bahwa film adalah legitimate historical documents. Film-film Hollywood selalu menggambarkan AS sebagai negara yang digdaya, baik dari sisi militer maupun non-militer. Pencitraan yang terus menerus mengenai kedigdayaan AS melalui film lambat laun diterima sebagai kebenaran yang tidak terbantahkan, menjadi mitos.

AS mendapatkan dan mempertahankan hegemoninya di dunia salah satunya adalah karena film. Reinhold Wagnleitner dalam working paper­-nya yang berjudul American Cultural Diplomacy, the Cinema, and the Cold War in Central Europe menulis bahwa masyarakat Eropa secara tidak sadar telah dijajah secara kebudayaan dengan penanaman nilai-nilai dan cara berpikir AS sejak 1918, menggunakan saluran-saluran distribusi untuk cultural capital, dengan Hollywood di pusatnya.

Bagi AS, adalah sebuah kerugian jika mereka berhenti ‘mencekoki’ negara-negara lain dengan film mereka. Film bukan sekadar komoditas perdagangan biasa, bahkan tidak ternilai dengan uang. AS sangat melindungi distribusi filmnya di luar negeri. Karena itu, adalah mengherankan jika pihak MPEAA dengan sukarela menghentikan distribusinya ke Indonesia. Seharusnya beban pajak bukanlah masalah yang serius bagi AS, apalagi beberapa sumber menyebutkan pajak film impor Indonesia itu jauh lebih kecil dibanding negara-negara lain.

Ketika pemerintah menerapkan kuota terhadap film impor pada tahun 1970 dan 1980-an untuk melindungi industri film nasional, pemerintah AS turun tangan menekan Indonesia untuk membuka keran bagi film mereka dengan ancaman boikot bagi ekspor tekstil dan kayu lapis Indonesia. Hal serupa juga terjadi pasca Perang Dunia II, ketika itu AS gencar memberikan bantuan keuangan kepada negara-negara Eropa yang menderita kerugian besar akibat perang (Marshall Plan). Negara-negara yang mengharapkan bantuan dari AS dipastikan tidak akan mendapatkannya jika memberlakukan kuota impor atas film-film AS.

AS merugi


Melihat bagaimana penting dan strategisnya peran film dalam politik luar negeri AS, tidak heran jika keseriusan ancaman MPEAA untuk menghentikan pasokan film Hollywood ke Indonesia patut disangsikan. Penghentian tampaknya hanya akan berlangsung sementara. Baik pemerintah tetap melanjutkan pengesahan pajak tambahan tersebut atau tidak, cepat atau lambat MPEAA akan kembali memasok film-filmnya ke Indonesia. Jika MPEAA keukeuh menghentikan pasokannya untuk selamanya, maka AS berada dalam kerugian yang besar.

Pertama, dari segi ekonomi. Jumlah penduduk Indonesia yang besar dengan pendapatan per kapita yang terus tumbuh dan berkonsekuensi pada tumbuhnya kelas menengah merupakan pasar yang sangat menggiurkan bagi Hollywood. Kalau pun pemerintah jadi menambah instrumen pajak atas film, konsekuensi logisnya adalah MPEAA akan menaikan nilai jual film yang tentu akan berimbas pada kenaikan tiket bioskop. Namun dengan segmentasi pasar untuk film impor adalah kelas menengah ke atas, maka pengusaha bioskop seharusnya tidak perlu khawatir kehilangan penonton.

Kedua, dari segi diplomasi. Rakyat Indonesia, hampir seluruhnya, mengenal dan merasa dekat dengan kebudayaan dan nilai-nilai AS adalah melalui film, bukan melalui buku, berita, ataupun sumber-sumber informasi lainnya. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa menjauhkan rakyat Indonesia dari film-film Hollywood sama dengan menjauhkan rakyat Indonesia dari AS, dan hal tersebut merupakan kerugian bagi AS. Apalagi saat ini pemerintahan Obama sedang berupaya merangkul Indonesia untuk membersihkan citra AS sebagai musuh Islam. Islam yang berkembang di Indonesia, yang sejalan dengan demokrasi, dipandang penting bagi AS untuk mengikis radikalisme. Keputusan MPEAA untuk menghentikan distribusi film-filmnya kontraproduktif dengan semangat tersebut.

Bagaimanapun, kerugian akibat polemik yang berkembang saat ini tidak hanya dialami oleh AS, melainkan juga oleh Indonesia. Saat ini pemberlakuan pajak tersebut tengah digodok oleh pemerintah dengan mendengar sumbang pendapat dan saran dari pihak-pihak terkait. Tentu saja semua pihak berharap kebijakan yang dikeluarkan pemerintah kemudian merupakan win-win solution, yang tidak saja mengembalikan film-film Hollywood ke bioskop-bioskop tanah air, tapi juga melindungi industri perfilman nasional.

oleh: Arief Ilham Ramadhan

About FJM

I am an eternal learner. Learn by reading and writing. It helps to make piece of information that I just learned linger in my head. That's good I also want to share my knowledge. Be it the simplest information, or even trivial. I have two sites, this one which I will mostly write in Indonesian and www.fjmurdiansyah.com which I am practicing to write in English. I hope we all could share ... anything.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s