Akan Seperti Apakah Kita di Masa Yang Akan Datang ?


Satu

Kriiinggg….’Hallo. Peppa* ya? Sudah datang semua tamu-tamunya nak? Ya, peppa main sama bunda dan teman – teman dulu ya. [diam]. Kenapa? [diam]. Iya nak, papa masih ada kerjaan nih. Maafin papa ya sayang. Nanti malam ya papa ajak peppa pergi ketempat yang super spesial..[tidak lama kemudian telfon ditutup]’.

‘Anak saya mas. Hari ini hari ulang tahunnya. Eh, sampai dimana kita tadi?’.

Itulah salah satu percakapan saya dengan atasan saya pada hari Minggu di ruangan kantor yang baru saja menerima telfon dari anak nya yang marah karena ayahnya tidak dapat hadir di perayaan ulang tahun anaknya setelah seminggu penuh lembur kerja bersama saya.

Wajar sih anak itu marah. Atau setidaknya kecewa. Sudah seminggu ini kami berdua larut dalam pekerjaan hingga hampir subuh setiap harinya dan meninggalkan waktu-waktu berharga yang kita miliki untuk berkumpul bersama keluarga. Saya pun merasakan hal yang sama ketika pada saat itu saya sering meninggalkan istri saya yang tengah hamil tua anak pertama kami.

Tekanan dan dilema ‘pekerjaan-keluarga’ itu saya rasakan dan saya pahami betul. Tidak enak rasanya. Getir. Janggal dan aneh dalam kapasitas saya sebagai seorang pegawai negeri sipil.

Kalau dipikir-pikir, kantor saya itu memang unik. Tidak ada bedanya dengan swasta dimana dulu saya bekerja. Tiba di kantor jam 8.30 pagi dan kembali kerumah rata-rata diatas jam 10 malam itu sudah menjadi suatu kelaziman. Aneh rasa-rasanya kalau sudah dalam perjalanan pulang ketika matahari masih hangat menyapa. Terlebih-lebih pada kesempatan yang saya ceritakan diatas. Saya dan atasan ‘rajin’ untuk pulang dari kantor diatas jam 1 atau 2 pagi.

Ah mustahil. Mana ada pegawai negeri sipil seperti itu’. Kalimat ini juga akrab saya jumpai dalam percakapan saya dengan keluarga besar ataupun teman. Biarlah. Saya tidak ingin membahas ‘mustahil-tidak mustahil’ nya cerita diatas. Bagi yang kenal dengan saya atau kerja di tempat serupa pasti akan langsung paham atau setidak-tidak nya familiar dengan cerita itu.

Hari itu berlangsung larut dan atasan saya kembali gagal memenuhi janjinya untuk mengajak anaknya pergi di hari ulang tahunnya…

Dua

Staf atau anak buah? Saya tidak merasakannya. Semua saya kerjakan sendiri. Mulai dari inti tugas dan fungsi saya seperti menyiapkan kertas posisi ataupun bahan perundingan hingga hal-hal kecil yang tidak melekat seperti fotokopi, binding, mencatat surat masuk-keluar, menyiapkan rapat, fax undangan rapat dan sebagainya.

Kekurangan staf. Itulah yang saya rasakan. Mungkin karena kekurangan staf itulah rutinitas kantor menjadi sangat panjang dan melelahkan. Saya tidak tahu..

Tapi saya beruntung. Saya dan atasan saya seperti teman baik. Kami biasa bercerita mengenai hobi bersepeda, dunia gadget dan bahkan cerita-cerita pribadi kami. Yah, sekedar mencari ‘zona-bebas-kerja’ lah dalam rutinitas kerja sehari-hari.

Saat itu jam 11 malam. Atasan saya berucap dengan mata merah dan muka lelah ‘mas, mas pulang saja duluan mas. Istri lagi hamil tua khan. Ini kayaknya masih banyak yang musti di revisi mas’. Wah, baru saja istri saya telfon dan cerita bahwa istri saya muntah-muntah kok saya dikasih peluang untuk pulang cepat nih pikir saya. Separuh emosi saya seperti lompat dan ingin segera membawa tubuh ini untuk mengambil tas dan pulang menuju rumah. Tapi saya sungkan. Gak tega juga sih lebih tepatnya. Dengan getir saya jawab ‘no worries sir. Kita kerjakan saja paling sebentar lagi selesai”

Ternyata saya salah. Jam 2 pagi tapi sepertinya tanda-tanda frustasi mulai muncul. Masih jauh dari selesai. Pikiran saya pun saat itu sudah bercabang. Ingin menuntaskan pekerjaan disatu sisi, namun disisi lain saya sangat khawatir dengan kondisi istri saya yang tinggal sendiri di kontrakan. Musti menyiapkan makan malam sendiri diantara mual-mual nya dan puluhan cerita kehamilan lainnya yang tidak lah penting untuk diceritakan disini.

Kira-kira jam 2.30 pagi atasan saya datang dan berkata:

Mas, kantor itu adalah tempat yang tidak memiliki emosi sama sekali. Dia tidak akan pernah tahu perasaan kita ataupun kekhawatiran kita. Kantor itu sifatnya egois mas. Jadi ada kalanya diikuti dan ada kalanya ditinggalkan. Pulang mas. Saya juga sebentar lagi pulang kok. Besok pagi-pagi kita kesini lagi saja..”

Saya pun memilih pulang pada kesempatan itu. Meninggalkan atasan saya dengan rasa yang sangat tidak enak dengan suatu kalimat yang menggantung di kepala saya:

kantor itu tidak memiliki emosi…”

Tiga

Kira-kira pada bulan November 2012 saya mendapat berita bahwa saya mendapat beasiswa untuk melanjutkan studi di Negara lain. Banyak yang bilang ‘ah sebagai pegawai negeri sipil mah enak, beasiswa ya datang saja tanpa diminta’.

Saya sih tertawa saja. Dalam hati saya, ini adalah aplikasi beasiswa saya ketiga yang baru sukses setelah sebelumnya gagal dan saya pun musti merombak proposal penelitian saya dalam aplikasi yang terakhir ini. Jadi beasiswa ini adalah tahun ketiga saya mencoba dan kemudian berhasil. Tidak semudah dan segampang yang dibayangkan orang. Tapi ya itulah persepsi. Biarkan saja..

Hari itu saya datang ke atasan saya untuk meminta tanda tangan beliau pada kontrak beasiswa yang akan saya terima. Sempat agak ragu-ragu untuk minta tanda tangan hari itu karena pekerjaan lagi banyak. Tapi kalau tidak hari itu kapan lagi pikir saya.

Saya masuk keruangannya. Saya cerita. Yah intro sedikit lah. Kemudian saya sodorkan kontrak itu.

Atasan saya mulai membaca kontrak itu. Sesekali sambil sedikit berkomentar ataupun berkelakar pada pasal-pasal kontrak. Namun ketika bagian tanda tangan. Beliau menutup kontrak itu. Menaruh pulpen nya dan mentautkan kedua tapak tangannya di atas meja sambil menatap saya lurus.

Wah, kenapa nih pikir saya.

Dengan suara baritonnya atasan saya kemudian bertanya “Anak dan istrimu gimana? Kamu ajak khan? Soalnya kalau tidak kamu ajak, saya akan sedikit sulit untuk tanda tangan kontrak ini…”

Kami kemudian berbincang bincang dan sebelum saya keluar dari ruangannya (tentunya setelah kontrak saya di tanda tangani J ) dia kembali bertanya:

Persiapan keberangkatan anak dan istrimu bagaimana? Sudah beres semua? Ada yang saya bisa bantu dalam kapasitas saya?”

Empat

Bekerja sebagai pegawai negeri sipil dengan rutinitas yang saya hadapi itu pilihan. Saya sebelumnya bekerja di swasta namun memilih untuk menjadi pegawai negeri sipil. Itulah pilihan saya.

Saya juga berharap ketika nanti roda berputar dan kita semua berada di posisi sebagai atasan, kita tetap memiliki logika dan hati nurani yang sehat sebagaimana dipercontohkan dengan sangat baik oleh atasan saya.

Setidaknya pada saat sekarang. Hari ini. Kita sudah menentukan pilihan. Hanya sebuah pilihan sederhana: “akan seperti apakah kita di masa datang?”

 Notes:

*bukan nama sebenarnya

About FJM

I am an eternal learner. Learn by reading and writing. It helps to make piece of information that I just learned linger in my head. That's good I also want to share my knowledge. Be it the simplest information, or even trivial. I have two sites, this one which I will mostly write in Indonesian and www.fjmurdiansyah.com which I am practicing to write in English. I hope we all could share ... anything.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

One Response to Akan Seperti Apakah Kita di Masa Yang Akan Datang ?

  1. Thank you a bunch for sharing this with all people you actually know what you’re talking approximately!
    Bookmarked. Kindly additionally consult with my site =). We can have a link
    alternate contract among us

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s