Netralitas Saya


Artikel ini saya tulis sudah lama. Saya simpan dan saya diamkan begitu saja. Unpublished istilah kerennya. Saya memiliki alasan alasan tertentu untuk tidak mempublikasi artikel ini; dan juga memiliki alasan-alasan tertentu pula yang hingga akhirnya sekarang mempublish artikel ini.

Awalnya dimulai dari keprihatinan saya atas “situasi”. Saya melihat banyak sekali kawan-kawan PNS yang menunjukkan ketidak netral-an-nya dalam Pilpres 2014 yang lalu. Ah, biarkan saja. Bukan urusan saya, saya pikir.

Namun saya tidak bisa diam saja. Artikel ini setidaknya menjadi saksi bisu keperhatian saya atas kondisi yang berkembang saat itu.

Bagi saya, menjadi PNS itu pilihan. Tatkala saya memilih untuk melepaskan atribut swasta, semi-akademik, professional dan sebagainya, saya tiba di suatu piramida profesi yang menurut saya sangatlah kaku secara etika.

Saya sering kali berjumpa sahabat ataupun saudara yang menanyakan informasi terkait X. Pandangan PNS katanya. Pilpres ya sama saja, “Fer, siapa Presiden pilihan mu? Aku mau ikut aja wong kamu khan lebih ngerti situasi nya dari dalam”.

Dari dalam itu apa? Bukankah pemilu, baik legislatif ataupun eksekutif itu sangat personal? Apa yang saya yakini benar belum tentu benar bagi orang lain dan sebaliknya. Semua itu relatif. Namun acapkali yang terjadi adalah, PNS dipandang sebagai pihak yang mengetahui inside information sehingga apa yang diketahui PNS akan menjadi berarti atau berguna.

Naif sekali? Ya memang naïf. Tapi banyak yang seperti itu, tidak hanya dua atau tiga. Ratusan bahkan mungkin ribuan.

Saya menjaga netralitas saya karena setidaknya saya tidak ingin sahabat saya memilih calon pemimpin karena sesuatu yang belum tentu benar bagi mereka. Pilihan saya mungkin baik hanya bagi saya, karena saya menyakininya dengan sepenuh hati. Lebih-lebih saya tidak mau menggerakkan teman-teman saya untuk memilih pasangan tertentu. Biarkan saja kesadaran berpolitik itu tumbuh dengan sendirinya.

Dengan mata kepala saya sendiri saya melihat sahabat saya menggunakan seragam PNS dan menghimbau untuk memilih pasangan X.

Ah sahabat, mungkin itu pilihanmu ya sudah lah. Tapi bagiku PNS itu penuh dengan etika. Ketika saya memilih profesi ini ya saya akan terkungkung dengan segala etika yang ada. Saya menghormati itu dan dalam konteks pilpes, saya ingin menjaga netralitas saya.

Clayton, 23 June 2014

About FJM

I am an eternal learner. Learn by reading and writing. It helps to make piece of information that I just learned linger in my head. That's good I also want to share my knowledge. Be it the simplest information, or even trivial. I have two sites, this one which I will mostly write in Indonesian and www.fjmurdiansyah.com which I am practicing to write in English. I hope we all could share ... anything.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

One Response to Netralitas Saya

  1. Istanamurah says:

    Berhubung kita negara demokratis jadi sah aja untuk netral termasuk ane juga gan,, hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s