Kejahatan Persekusi


Baru baru ini kita lagi di hebohkan dengan apa yang dikenal dengan kejahatan persekusi. Beberapa pihak juga mengungkapkan seharusnya tindakan sekelompok orang menolak kedatangan seorang petinggi negeri di suatu daerah baru baru ini juga dijerat sebagai kejahatan persekusi. Namun apakah benar penolakan kedatangan seorang petinggi negeri disuatu wilayah merupakan suatu kejahatan persekusi? Apa sih definisi kejahatan persekusi itu?

Kata persekusi sebenarnya diadopsi dari Statuta Roma Mahkamah Pengadilan Internasional (International Criminal Court). Pasal 7 Statuta Roma memasukkan persekusi sebagai kejahatan kemanusiaan dengan elaborasi “Persecution against any identiable group or collectivity on political, racial, national, ethnic, cultural, religious, gender…or other grounds that are universally recognized as impermissible under international law…”.

Adapun defisini persekusi menurut Statuta Roma adalah: “Persecution means the intentional and severe deprivation of fundamental rights contrary to international law by reason of the identity of the group or collectivity”.

Di dalam konteks hukum nasional kita, kejahatan kemanusiaan diatur di dalam UU No 26 tahun 2000 tentang Pengadilan HAM. Adapun mengenai persekusi di dalam hukum nasional kita diterjemahkan sebagai “penganiayaan”.

Kejahatan persekusi itu sendiri diterjemahkan pasal 9 (h) UU Pengadilan HAM sebagai berikut: “penganiayaan terhadap suatu kelompok tertentu atau perkumpulan yang didasari persamaan paham politik, ras, kebangsaan, etnis, budaya, agama, jenis kelamin atau alasan lain yang telah diakui secara universal sebagai hal yang dilarang hukum internasional”.

UU Pengadilan HAM itu sendiri tidak memberikan definisi rinci atas apa yang dimaksud sebagai “penganiayaan”. KUHP kita memang mengatur penganiayaan sebagai suatu kejahatan didalam pasal 351 hingga pasal 358, namun demikian, KUHP kita juga belum memberikan defisini rinci atas apa “penganiayaan” itu sendiri. Pasal 351 KUHP secara implisit memberikan “kisi-kisi” bahwa tindakan penganiayaan adalah tindakan yang: mengakibatkan luka-luka berat, mengakibatkan kematian dan tindakan yang merusak kesehatan”.

Sebelum lahirnya Statuta Roma, hukum internasional pun tidak secara jelas mendefinisikan persecution/penganiayaan. Istilah persecution telah digunakan dalam beberapa instrumen hukum internasional sebagai berikut, namun definisinya baru diadopsi dalam Statuta Roma:

a. Constitution of the International Refugee Organization 1946;

b. Universal Declaration on Human Rights 1948;

c. Statute of the Office of the United Nations High Commissioner for Refugees 1950;

d. Convention relating to the Status Refugees 1951; dan

e. Declaration on Territorial Assylum 1967.

UU Pengadilan HAM memang mengadopsi secara partial beberapa kejahatan yang diatur di dalam Statuta Roma, sehingga apabila kiblat nya memang ke Statuta Roma, seyogya nya UU Pengadilan HAM juga memuat ketentuan mengenai defisini persecution/penganiayaan itu sendiri.

Apabila sekarang kita berbicara persecution/penganiayaan, harusnya perubahaan atas UU Pengadilan HAM dan juga KUHP menjadi prioritas bersama. Hal ini dikarenakan agar kita memiliki kepastian hukum atas apa kejahatan persekusi tiu sendiri.

Secara singkat, karena kekosongan definisi persekusi/penganiayaan di dalam KUHP ataupun UU Pengadilan HAM, maka bisa dikatakan saat ini interpretasi persekusi merupakan diskresi para penegak hukum.

Apabila kita akan mengikuti Statuta Roma, harusnya definisi persekusi adalah “perampasan hak asasi secara keras dan bertentangan dengan hukum internasional karena alasan identitas kelompok atau kolektivitas”. Tinggal sekarang kita menentukan, apakah definisi persecution ala Statuta Roma tersebut tepat untuk diadopsi di Indonesia.

Untuk pertanyaan diatas, apakah penolakan sekelompok orang atas kedatangan seorang petinggi di suatu daerah merupakan kejahatan persekusi? Saya tidak bisa menjawab secara hitam dan putih. Karena memang definisi persekusi/penganiayaan di UU nasional kita belum jelas.

Tampaknya diskresi penegak hukum di dalam menginterpretasikan persekusi, adalah sebagaimana diterjemahkan oleh Kamus Besar Bahasa Indonesia…


 

 

 

 

Advertisements

About FJM

I am an eternal learner. Learn by reading and writing. I have two sites, this one which I will mostly write in Indonesian and www.fjmurdiansyah.com which I wrote in English
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s